G
N
I
D
A
O
L

Indikator Nama Institut Agama Islam Bali


Denpasar-Bali (10/06/2023) – Menjelang satu tahun berjalan, sesuai regulasi yang sedang diupayakan ketua STAI Denpasar, Jumari, S.P., M.Pd. dan seluruh jajarannya kata “STAI Denpasar” segera ditanggalkan dan resmi menjadi Institute Agama Islam Bali. Sesuai regulasi Kemendikbudristek Dikti dan Diktis bila STAI Denpasar dapat menambah satu Prodi berbasis tiga sebaran dalam fakultas, alih status dapat dilaksanakan. Tentu semua berkaitan dengan berbagai sudut kualifikasi regulasi yang ditetapkan berdasarkan ketentuan, ketetapan, peraturan, dan undang-undang yang berlaku.

Hal itu menjadi agenda penting pembahasan yang melibatkan pimpinan dan kaprodi STAI Denpasar yang digelar pada Jumat, 10 Juni 2023 di ruang rapat yayasan Al-Ma’ruf Denpasar, Bali.

Manajemen STAI Denpasar terus melakukan resitasi manajerial dan penataan SDM serta sumber daya Sarpras sehingga dapat memfasilitasi rencana tersebut dengan baik. Manajemen menjadikannya regulasi Kopertais XIV Mataram, BAN PT, LAMDIK, dan university by research sebagai role model.

Manajemen mencontoh membangun institusi pendidikan dari sisi usaha, pengembangan unit usaha, pola, mengelola brand, manajemen media, komunikasi, kolaborasi dan lain-lain. Dari sisi usaha, manajemen tidak harus hanya mengandalkan dari satu sumber regulasi internal kemahasiswaan, namun diversifikasi lain dengan semboyan “Beyond Campus” atau lebih dari sekadar kampus.

Dalam konteks alih status, misalnya, dengan menyematkan nama Bali sebagai keyword, kemudian menjadi “Institut Agama Islam Bali” pada waktu kekinian menjadi indikator tersendiri. Karena, kini, tuntutan popularitas lokus tidak hanya nampak di dunia nyata, namun juga harus dapat dibuktikan di dunia Maya.

Google search, misalnya, keyword STAI Bali mencatat volume pencarian cukup fantastis. Ketika keyword Bali mencapai 1.240.000.000; (per 0,40 detik pada 10 Juni 2023), di waktu yang sama keyword STAI Bali search volume tembus 1.800.000; (per 39 detik).

Dengan numpang nama Bali, kalau nanti sudah menjadi “Institut Agama Islam Bali” kampus tetap tenar dari Bali. Nama Bali saja sudah brand, maka kampus tidak akan pernah kusut, lebih tenar dan lebih dikenal sampai kapan pun. Maka tidak salah kalau William Shakespeare pernah berujar, “what is name” apa arti sebuah nama. Pada era digital ini nampak terang jawaban ini kita pahami, (Imam Muhayat).